Kamis, 23 Maret 2017

Modal Auxiliaries



Modal Auxiliary Verbs

1. Definition
Modal auxiliary verbs are easy to use because they never change form or tense. These verbs are full of possibilities! In fact, possibility is just one thing modal auxiliary verbs can show; they can also indicate necessity, capability, or willingness.

2. Used
Modal auxiliary verbs are used to show a necessity, capability, willingness, or possibility. Unlike most verbs, there is only one form for these verbs. Typically, verb forms change to indicate whether the sentence's subject is singular or plural.
Most verbs also indicate whether something happened in the past, present, or future. This is not the case with most modal auxiliary verbs, which makes them simpler to understand and use correctly.
3. Examples of Modal Auxiliary Verbs
So now that we understand the purpose of modal auxiliary verbs, let's take a look at some of the common ones you may see in writing. The modal auxiliary verbs include:
  • Can
  • Could
  • May
  • Might
  • Must
  • Ought
  • Shall
  • Should
  • Will
  • Would
It's important to note that these verbs can also indicate the negative: could not, may not, should not, etc.
1) I can run a mile in 8 minutes. (expresses a fact or possibility)
2) You must clean your plate before you have dessert. (expresses a command)
3) I might go to the park after school today. (expresses a possibility)

4) It would be nice if a rainbow appeared. (expresses a wish)
5) Do you think it will rain today? (expresses a possibility or a wish)

6) Grandma could arrive any minute! (expresses a possibility)
7) You should try some of this spaghetti. (expresses a statement of opinion)

8) Will you give me some money? (expresses a wish or possibility)

Pengertian, Contoh dan Fungsi Modal Auxiliary Verbs
A. Pengertian.
Modal Auxiliary adalah kata kerja yang bertugas membantu kata kerja utama. Jadi Modal Auxiliary adalah kata kerja pembantu, dan kata kerja utama itu adalah “majikannya”. Contoh: I will explain about modal auxiliary. “Will” adalah kata kerja bantu yang bertugas membantu kata kerja utamanya yaitu “Explain”. Karena hanya pembantu, sehingga ketika dihilangkan tidak akan menjadi masalah dan kalimat tersebut tidak akan kehilangan makna utamanya. Tapi kalau kata kerja utamanya yang dihilangkan, maka kalimat tersebut akan kehilangan makna. Modal auxiliary hanya terdiri dari beberapa kata kerja saja. Jadi kita tidak perlu khawatir dalam memahaminya. Berikut saya jelaskan apa saja yang termasuk modal auxiliary disertai dengan contoh kalimatnya.

B. Contoh dan Fungsi Modal Auxiliary Verbs.
           
WILL
Fungsi:
1      Berbicara tentang pekerjaan di masa depan,
           Contoh: I won’t (will not) be in the office until 11; I’ve got a meeting
2      Membuat semi formal permintaan,
           Contoh: Will you open the window, please? It’s very hot in here.

SHALL
Fungsi:
1.      Untuk menawarkan sesuatu,
      Contoh: Shall I fetch you another glass of wine?
2.      Membuat kalimat saran
      Contoh:  Shall we go to the cinema tonight?

MAY & MIGHT
Fungsi:
1.      Menggambarkan pekerjaan yang mungkin terjadi. Bedanya May lebih memungkinkan terjadi (50% chance); sedangkan might lebih meragukan (mungkin hanya 30% chance).
      Contoh: She may be back in her office: the lecture finished    ten minutes ago.
2.      Menunjukkan persetujuan atau izin. Jadi biasa diterjemahkan dengan arti “boleh”.
      Contoh: You may go home now.

WOULD
Fungsi:
1.      Bentuk past dari will.
Contoh: He said the next meeting would be in a month’s time.
2.      Permintaan tolong yang lebih halus dari “will”.
Contoh: Would you like another cup of tea?

CAN & COULD
Fungsi:
1.      Berbicara tentang kemampuan.
Contoh: Can you speak Mandarin? (present)She could play the piano when she was five. (past)
2.      Membuat permintaan,
Contoh: Can you give me a ring at about 10?Could you speak up a bit please? (slightly more formal, polite or ‘softer’)
3.      Permohonan izin,
Contoh: Can I ask you a question?Could I ask you a personal question? (more formal, polite or indirect)
4.      Pilihan,
Contoh:  If you want some help with your writing, you can come to classes, or you can get some 1:1 help.

  MUST
  Fungsi:
1.      Untuk menunjukkan sebuah kewajiban atau keharusan.
Contoh: People must try to be more tolerant of each other.
2.      Sugesti/saran/ajakan yang kuat.
Contoh: I think you really must make more of an effort.
3.      Menunjukkan arti “Pasti”.
Contoh: This must be the place – there’s a white car parked outside (ini pasti tempat – ada mobil putih yang diparkir di luar). Jadi must di sini artinya bukan “harus”, tapi “pasti”.

SHOULD
Fungsi:
1.    Memberi Saran.
Contoh: I think you should go for the Alfa rather than the Audi.
2.    Kewajiban, tapi lebih lemah dari “must”.
Contoh: The equipment should be inspected regularly. (Peralatan harus diperiksa secara rutin).
3.      Seharusnya, tapi ga terjadi.
Contoh: I should have renewed my TV licence last month, but I forgot.

OUGHT TO
Ought to punya makna yang sama dengan should, biasanya dipakai pada kalimat affirmative pada waktu present (saat ini).
      Contoh: You should/ought to get your hair cut.

C. Catatan untuk Modal Auxiliary.
1.         Tidak bisa diikuti oleh Modal yang lain. Jadi tidak boleh: I should can, kalau terpaksa, maka “can” harus diganti dengan “be able” sehingga menjadi: I should be able.
2.         Tidak bisa berganti bentuk atau ditambahi, misalnya ditambahi “-s” atau “-ed”. Jadi tidak boleh: She cans (tetap she can sekalipun orang ketiga tunggal)
3.           Selain Ought, modal auxiliary tidak boleh diikuti “to”. Jadi tidak boleh: You can to go, tapi harus: you can go.

Referensi :
http://study.com/academy/lesson/modal-auxiliary-verbs-definition-uses-examples.html
http://www.softschools.com/examples/grammar/modal_auxiliary_verbs_examples/64/

Kamis, 17 November 2016

CV

Depok, november 10, 2016
Job Application Things:

To The Designation.
Head Of Personalia/HRD
Pt. International
JL. Raya No. 007 
depok

With respect,

In accordance with the job offer from PT. Internasional, as contained in the Kompas daily on October 28, 2016.
In connection with this, let me ask myself (applying for work) to join in the development plan of PT International.

About myself, I can explain as follows:
Name                           : Didik Nur Prasetyo
Place date &. Born      : 7 March 1996, Klaten
Final                            : accounting in harapan bangsa vocational high school
Address                       : JL. h. icang cimanggis, depok
Phone, HP                   : -, 087784293060
e-mail                          : didiknrp@gmail.com
Marital Status              : Unmarried.

I am currently a student in accounting, University of Gunadarma, I am glad to learn, and able to work independently as well as in the team well.

As consideration, I attach:

1. Life-History list.
2. copy of diploma
3. copy the certificate courses/training.
4. Fitting the latest photos.
Great expectations I was given the opportunity to interview, and be able to explainmore in depth about my self. As implied in the resume (curriculum vitae), I have theeducational background, experience the potential and a hard worker.

So I tell them. Thank you for the attention of Mr/Mrs.


Respect me,


Didik Nur Prasetyo


Rabu, 20 April 2016

Kasus Hukum Perdata

KASUS HUKUM PERDATA
Sertifikat tanah hak milik Asri Sumarjono
Assalamualikum wr.wb 
 Sekarang tulisan ini yang dibuat bersama kelompok saya akan membahas tentang kasus hukum perdata, sebelum nya saya akan memperkenalkan kelompok saya dahulu.

NAMA KELOMPOK :
DEAN DETAREZA              (22214725)
DIDIK NUR PRASETYO    (23214060)
DONA AMALIA HANUM  (23214238)
EGHAR BAGASADITYO   ( 23214416)

Kronologi Kasus
Awal mula kasus ini diunduh pada tanggal 20 Desember di Ma’had Sunan Ampel Al-‘Ali melalui Penggugat mempunyai sebidang tanah pekarangan dengan status Hak Milik seluas 2.455 M2 atas nama ASRI SUMARDJONO (Ibu Penggugat) yang terletak di Jl.Timoho No.30 RT.81 RW.19 Baciro Gondokusuman, Yogyakarta sebagaimana tersebut dalam daftar Sertifikat Tanah Hak Milik No.01583/Baciro, Surat Ukur No.1 Tanggal 14-01-1998 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kota Yogyakarta pada tanggal 14 Januari 1998 No.Sertifikat 13.05.03.04.1.91583; Tanah Pekarangan milik Penggugat tersebut diatas, diatasnya berdiri 3 (tiga) Bangunan rumah milik Penggugat yang terpisah, yakni Bangunan I seluas kurang lebih 150 M2, Bangunan II seluas 20 M2 dan Bangunan III seluas 100 M2, yang ketiga bangunan milik Penggugat tersebut terletak pada sisi bagian barat dari posisi tanah Pekarangan milik Penggugat tersebut, dan bangunan-bangunan tersebut saat ini ditempati oleh Penggugat.
Pada tahun 2007, Tergugat I mendatangi Penggugat dengan maksud untuk bekerja sama membuat usaha dan mendirikan Rumah Toko (Ruko) yang rencananya akan dibangun Ruko diatas tanah milik Penggugat tersebut diatas (posita No.1 diatas) pada bagian depan/sisi timur dari tanah milik Penggugat, dengan rencana kesepakatan pada waktu itu, Tergugat I akan membangunkan ruko kemudian disewakan kepada pihak ketiga dengan pembagian keuntungan, Penggugat mendapatkan 20% dari harga sewa selama 10 tahun, setelah jangka waktu 10 tahun bangunan Ruko tersebut menjadi hak milik Penggugat dan pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMBB) adalah tanggung jawab Pihak Tergugat I.
Sebelum rencana kesepakatan itu dituangkan dalam akta kesepakatan, ternyata oleh tergugat I tanpa ijin penggugat pada tahun 2007 tersebut serta-merta memulai pembangunan bangunan ruko dimaksud dan hanya berselang sekitar 3 (tiga) bulan bangunan ruko telah selesai dan tergugat I menyatakan kesanggupannya untuk segera menguruskan proses izin mendirikan bangunan (IMBB) pada Pemerintah kota Yogyakarta berdasarkan kesanggupan dan kesepakatan bersama bahwa Tergugat I akan bertanggung jawab untuk mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMBB).
Pada waktu itu masih dalam tahun 2007 dengan adanya kekhawatiran dari Penggugatt akan timbul permasalahan dikemudian hari, maka Penggugat menawarkan kepada Tergugat I untuk dibuatkan secara formal Akta Perjanjian Kerja Sama melalui Notaris, sehingga disepakati membuat Akta Perjanjian Kerjasama melalui Notaris yang ditunjuk yakni Notaris Tri Agus Heryono, SH, ternyata setelah konsep Perjanjian Kerjasama itu sudah selesai didaftarkan, tinggal akan dilakukan penandatanganan Perjanjian, dengan Itikad Tidak Baik dari Tergugat I sampai saat ini Surat Perjanjian Kerjasama tersebut belum ditandatangani dan difinalkan oleh Tergugat I, padahal pada waktu itu Bangunan Ruko sudah jadi, oleh Tergugat I telah Menyewakan kepada Tergugat III dan Tergugat IV; Bangunan Ruko tersebut menjadi 3 (tiga) bagian bangunan yang masing-masing bagian dengan ukuran dan luas kurang lebih 27 M2 yang luas keseluruhan Bangunan Ruko tersebut seluas 81 M2, setelah Penggugat mengetahui bahwa dari ketiga bagian bangunan Ruko tersebut telah disewakan kepada pihak Tergugat III dan Tergugat IV, maka Penggugat mendesak kepada Tergugat I untuk segera mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMBB) dimaksud dan segera memformalkan kesepakatan Kerjasama tersebut melalui Notaris, ternyata oleh Tergugat I mengatakan pada waktu itu bahwa yang membuka usaha itu adalah anaknnya yang bernama Windarto (Tergugat II) sehingga meminta tanda tangan Penggugat dalam rangka pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMBB) pada Pemerintah Kota Yogyakarta.
Pada tahun 2008, Penggugat baru mengetahui bahwa Permohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMBB) yang dimohonkan oleh Tergugat II yakni anak dari Tergugat I Ditolak oleh Pemerintah Kota Yogyakarta berdasarkan Surat Dinas Perizinan Pemerintah Kota Yogyakarta Nomor: 640/7949 tanggal 6 September 2007 dengan dasar alasan bahwa diatas bangunan berdiri didalam Garis Sempadan Bangunan (GSB) atau melanggar 100%, sehingga Permohonan IMBB tidak dapat diproses/ditolak. Setelah Penggugat mengetahui ditolaknya Permohonan IMBB tersebut, Penggugat mendesak kepada Para Tergugat-I dan II untuk Segera Membongkar Bangunan Ruko Tersebut, namun Tergugat-I dan II tidak mau membongkarnya, malahan terus menerus menyewakan ruko tersebut yang dibangun diatas tanah milik Penggugat, maka Penggugat berusaha membuat surat kepada Pemerintah Kota Yogyakarta agar melalui Pemerintah Kota Yogyakarta yang membongkar paksa bangunan ruko tersebut, berdasarkan Surat Penggugat berturut-turut tertanggal 12 Maret 2008, tanggal 15 Desember 2008, tanggal 27 Mei 2010 dan tanggal 3 September 2010, malahan telah berulangkali difasilitasi oleh Pemerintah Kelurahan Baciro untuk menyelesaikan kasus ini, namun oleh para Tergugat-I dan II sampai saat ini tidak mau untuk membongkar bangunan ruko tersebut.
Disamping Tergugat I dan Tergugat II dihukum untuk membongkar bangunan ruko tersebut, juga Tergugat I dan Tergugat II dihukum untuk menutup/menyegel bangunan ruko tersebut dan atau tidak ada bentuk usaha apapun yang dilakukan oleh pihak manapun sebelum adanya Putusan Akhir atas Gugatan ini, guna menghindari kerugian yang lebih banyak lagi yang diderita oleh Penggugat, hingga Penggugat memanggil Para Tergugat-I dan II melalui Kuasa Hukum Penggugat, yakni pada tanggal 28 Februari 2011 untuk mencari solusi penyelesaian perkara ini, namun Tergugat I dan Tergugat II Tidak Hadir dan Sampai Saat Ini Para Tergugat I dan Tergugat II Belum Membongkar Bangunan Ruko Tersebut, malahan terus-terusan menyewakan Bangunan Ruko tersebut kepada Pihak Tergugat III dan Tergugat IV, sehingga penggugat sangat dirugikan atas perbuatan tergugat I dan tergugat II karena tanpa hak dan melawan hukum telah mengambil keuntungan dari sewa bangunan tuko tersebut yang didirikan diatas tanah milik penggugat tanpa hak dan melawan hukum.
Disamping para tergugat-I dan II menguasai tanah milik penggugat secara melawan hukum dan tanpa hak, juga Para Tergugat-I dan II telah wanprestasi atas kesanggupannya guna mengurus IMBB dan tidak berkehendak untuk membuat kesepakatan perjanjian kerjasama, padahal dapat diketahui bahwa sejak tahun 2007 sampai gugatan ini didaftarkan kepada Pengadilan, para Tergugat-I dan II telah mengambil keuntungan atas sewa bangunan ruko tersebut dari Tergugat-III dan IV, sehingga penggugat dirugikan secara meteriil dan immaterial; sehubungan dengan Pembangunan bangunan ruko tersebut yang dilakukan oleh para tergugat-I dan II diatas tanah milik penggugat melawan hukum dan tanpa hak, maka dihukum kepada para tergugat-I dan II untuk membongkar dan mengosongkan bangunan diatas tanah milik penggugat tersebut, jika perlu dengan bantuan pihak aparat kepolisian; sehubungan dengan penguasaan tanah milik penggugat itu dilakukan oleh tergugat-I dan II secara melawan hukum dan tanpa hak, maka hubungan hukum dalam bentuk sewa-menyewa antara para tergugat-I dan II dengan pihak iergugat III dan IV, dinyatakan TIDAK SAH, karena pihak yang menyewakan yang dalam hal ini para tergugat-I dan II adalah pihak yang tidak berhak dan pihak yang beretikad tidak baik. Sehingga para tergugat-III dan IV dihukum harus mengosongkan dan pindah dari Tanah millik Penggugat tersebut; sehubungan Tergugat-I dan II telah menguasai Tanah Milik Penggugat tersebut secara melawan hukum dan tanpa hak sejak Tahun 2007.
 Analisis Kasus
Dari kasus diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tergugat I melakukan pelanggaran menggunakan tanah yang bukan hak miliknya, beritikad tidak baik dengan menolak penandatanganan akta perjanjian di notaris dan melakukan wanprestasi.
            Menggunakan tanah yang bukan hak miliknya dalah pelanggaran hukum, maka Tergugat I dikaitkan dengan Pasal 1365 KUHPerdata yang berbunyi “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.
Berdasarkan pasal 579 KUHPerdata yang berbunyi “Tiap-tiap pemegang kedudukan berkuasa dengan itikad buruk, berkewajiban sebagai berikut :
1.    Dalam mengembalikan kebendaan itu kepada si pemilik, ia harus mengembalikan pula   segala hasil kebendaan, bahkan hasil-hasil itulah diantaranya, yang mana kendati sebenarnya tidak dinikmati olehnya, namun yang sedianya dapatlah si pemilik menikmatinya.
2.      Ia harus mengganti segala biaya, rugi dan bunga.
Wanprestasi, sebagaimana dikatakan Subekti, berarti kelalaian atau kealpaan seorang debitur, kelalaian itu berupa :
1.      Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan.
2.      Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimna yang dijanjikan.
3.      Melakukan apa yang dijanjikan akan tetapi terlambat.
4.      Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.
Dalam kasus tergugat I, wanprestasi yang dilakukannya sesuai dengan pernyataan pertama diatas itu tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan, dengan tidak memenuhi kesanggupannya mengurus izin mendirikan bangunan (IMBB).
Akibat hukum bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi adalah hukuman atau sanksi sebagai berikut :
1.      Debitur diwajibkan membayar kerugian yang diderita kreditur (Pasal 1243 KUHPerdata).
2.      Apabila perikatan itu timbal balik, kreditur dapat menuntut pemutusan atau pembatalan perikatan melalui hakim (pasal 1266 KUHPerdata).
3.      Dalam perikatan untuk meberikan sesuatu, resiko beralih pada debitur sejak terjadi wanprestasi (pasal 1237 ayat 2 KUHPerdata).
4.      Debitur diwajibkan memenuhi perikatan jika masih dapat dilakukan atau pembayaran disertai pembayaran ganti kerugian (pasal 1267 KUHPerdata).
5.      Debitur wajib membayar biaya perkara jika perkara diperkarakan di muka pengadilan.


REFERENSI :

2.  Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti. 2000, Bandung,   hal. 144
3. Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti. 2000, Bandung, hal. 151
4. Mariam Darus Badrudaman, Mencari Sumber Hukum Benda Nasional, hal. 46
5. Sudikno Merto, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), hal. 103

Terimakasih telah melihat dan membaca blog saya ini, Wassalamualaikum wr.wb.